Identifikasi Telur Cacing Soil Transmitted Helminths pada Feses Balita Stunting dengan Metode Sedimentasi Menggunakan Ekstrak Ubi Ungu (Ipomoea batatas L.)
DOI:
https://doi.org/10.51574/illea.v2i2.5060Keywords:
Soil Transmitted Helminth, Balita stunting, Ekstrak ubi ungu, Antosianin, Metode sedimentasiAbstract
Masalah kekurangan gizi pada balita dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya infeksi Soil Transmitted Helminths (STH). Infeksi kecacingan ini masih banyak ditemukan di negara berkembang, termasuk Indonesia, dan dapat berkontribusi terhadap gangguan status gizi serta kejadian stunting. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemanfaatan antosianin dari ekstrak ubi ungu sebagai pewarna alternatif dalam pemeriksaan telur cacing STH pada balita stunting di Kabupaten Bulukumba.
Penelitian ini menggunakan metode purposive sampling dengan desain observasi laboratorik yang bersifat deskriptif kategorik. Pengumpulan data diawali dengan pemberian kuesioner untuk menentukan responden yang sesuai dengan kriteria penelitian. Dari proses tersebut diperoleh 19 responden balita stunting. Sampel feses kemudian diperiksa menggunakan metode sedimentasi dengan pewarnaan ekstrak antosianin dari ubi ungu.
Analisis data dilakukan menggunakan SPSS melalui uji statistik frekuensi. Hasil pemeriksaan mikroskopis menunjukkan 4 dari 19 sampel positif mengandung telur cacing Ascaris lumbricoides. Telur fertil ditemukan pada sampel berkode 1 dan 3, sedangkan telur infertil ditemukan pada sampel berkode 8 dan 11.
Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa proporsi kecacingan pada balita stunting di Kecamatan Ujung Bulu dan Gantarang, Kabupaten Bulukumba, sebesar 21,1%. Selain itu, ekstrak antosianin dari ubi jalar ungu dapat digunakan sebagai pewarna dalam pemeriksaan telur cacing STH. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi referensi bagi penelitian selanjutnya, khususnya dalam bidang parasitologi dan sains kesehatan.
References
Annisa, S., Dalilah, & Anwar, C. (2018). Hubungan infeksi cacing Soil Transmitted Helminths (STH) dengan status gizi pada siswa Sekolah Dasar Negeri 200 Kelurahan Kemasrindo Kecamatan Kertapati Kota Palembang. Majalah Kedokteran Sriwijaya, 2, 92–104. https://doi.org/10.36706/mks.v50i2.8553
Armanzah, R. S., & Hendrawati, T. Y. (2016). Pengaruh waktu maserasi zat antosianin sebagai pewarna alami dari ubi jalar ungu (Ipomoea batatas L. Poir). Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi, 1–10. https://jurnal.umj.ac.id/index.php/semnastek/article/view/724
Basarang, N. N., & Basarang, M. (2018). Penyuluhan kecacingan dan pemeriksaan telur cacing. Akademi Analis Kesehatan Muhammadiyah Makassar. 3,
323-327. https://jurnal.poliupg.ac.id/index.php/snp2m/article/view/1448
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2017). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2017 tentang penanggulangan cacingan. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Kurniawati, T. (2017). Langkah-langkah penentuan sebab terjadinya stunting pada anak. Jurnal Anak Usia Dini dan Pendidikan Anak Usia Dini, 3, 58–69.
Mahmudatussa’adah, A., Fardiaz, D., Andarwulan, N., & Kusnandar, F. (2015). Pengaruh pengolahan panas terhadap konsentrasi antosianin monomerik ubi jalar ungu (Ipomoea batatas L.). Agritech, 35(2), 129–136. https://doi.org/10.22146/agritech.9398
Purwanti, A., Putri, M. E. V. E., & Alviyati, N. A. (2019). Optimasi ekstraksi β-karoten ubi jalar kuning (Ipomoea batatas L.) sebagai sumber potensial pigmen alami. Prosiding Seminar Nasional Teknik Kimia, 414–419. https://journal.itny.ac.id/index.php/ReTII/article/view/1318
Rezki, N., & Aritonang, B. N. R. S. (2018). Identifikasi telur cacing Soil Transmitted Helminth (STH) pada murid Sekolah Dasar Negeri 91 Kecamatan Rumbai Pesisir Pekanbaru. Jurnal Sains dan Teknologi Laboratorium Medik, 3(1), 18–21. https://doi.org/10.52071/jstlm.v3i1.27
Salnus, S. (2019). Uji bioaktivitas ekstrak buah sawo manila (Manilkara zapota) terhadap pertumbuhan bakteri Salmonella typhi. INTEK Jurnal Penelitian, 6(1), 32–35. https://doi.org/10.31963/intek.v6i1.1010
Setiawan, B., & Khasanah, F. (2018). Perbedaan sensitivitas dan spesifisitas metode pengapungan dan sedimentasi formol ether untuk pemeriksaan Soil Transmitted Helminth. Jurnal Teknologi Kesehatan, 14(2), 41–45. https://doi.org/10.29238/JTK.V14I2.368
Ulayya, T., Candra, A., & Yuniastuti, D. (2018). Hubungan asupan protein, zat besi, dan seng dengan kejadian infeksi kecacingan pada balita di Kota Semarang. Journal of Nutrition College, 7(4), 1–9. https://doi.org/10.14710/jnc.v7i4.22277
