KECEMASAN BERBICARA DAN STRATEGI PEMBELAJARAN KOLABORATIF PADA MAHASISWA KEPERAWATAN: SEBUAH KAJIAN KUALITATIF

Authors

  • Heryani Institut Ilmu Kesehatan Pelamonia Kesdam XIV/ Hasanuddin, Makassar
  • Dika Ayu Wulandari Institut Ilmu Kesehatan Pelamonia Kesdam XIV/ Hasanuddin
  • Nurasia Natsir Institut Ilmu Kesehatan Pelamonia Kesdam XIV/ Hasanuddin
  • fibri Indira IIK Pelamonia
  • Nisma Institut Ilmu Kesehatan Pelamonia Kesdam XIV/ Hasanuddin

DOI:

https://doi.org/10.51574/illea.v2i2.5898

Keywords:

Kecemasan berbicara, Pembelajaran kolaboratif, komunikasi lisan, Pendidikan Tinggi

Abstract

Kecemasan berbicara tetap menjadi salah satu hambatan psikologis paling persisten yang dihadapi mahasiswa dalam komunikasi lisan, membatasi partisipasi di kelas dan menghambat perkembangan jangka panjang kompetensi berbicara. Penelitian ini mengkaji bentuk-bentuk dan sumber-sumber kecemasan berbicara yang dialami mahasiswa serta menelaah bagaimana strategi pembelajaran kolaboratif berkontribusi meringankan kecemasan tersebut dalam konteks kelas yang autentik. Dengan desain studi kasus kualitatif, data dikumpulkan melalui observasi partisipatif di kelas, wawancara mendalam semi-terstruktur, dan dokumentasi, lalu dianalisis secara induktif melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan, dengan kredibilitas dijaga melalui triangulasi sumber dan metode. Temuan menunjukkan bahwa kecemasan berbicara mahasiswa beroperasi secara bersamaan pada tingkat kognitif, afektif, dan somatik, yang terutama didorong oleh ketakutan akan penilaian negatif, terbatasnya pengalaman berbicara di depan umum, dan kurangnya kemahiran berbahasa lisan. Strategi pembelajaran kolaboratif diskusi kelompok kecil, bermain peran, dan umpan balik teman sebaya terbukti mampu meredakan kecemasan dengan mempersempit audiens evaluatif, mengalihkan fokus perhatian diri ke peran yang diperankan, dan mengubah kerangka umpan balik dari hierarkis menjadi kooperatif. Mekanisme-mekanisme ini secara bersama-sama menumbuhkan iklim afektif yang lebih suportif dan secara bertahap memperkuat kepercayaan diri mahasiswa dalam performa lisan, meskipun mahasiswa dengan tingkat kecemasan sangat tinggi tetap membutuhkan dukungan yang lebih bertahap dan individual. Temuan ini menegaskan pentingnya mengintegrasikan strategi kolaboratif secara struktural dalam pembelajaran berbicara, sekaligus memperhatikan variasi individual dalam tingkat keparahan kecemasan, serta menawarkan arah praktis bagi perancangan pedagogi yang peka terhadap kecemasan di pendidikan tinggi. Implikasi praktisnya, dosen perlu merancang urutan kegiatan kolaboratif yang bertahap agar mahasiswa dengan kecemasan berat turut memperoleh manfaat secara optimal.

References

Arnold, J. (Ed.). (1999). Affect in language learning. Cambridge University Press.

Brown, H. D. (2007). Principles of language learning and teaching (5th ed.). Pearson Education.

Creswell, J. W. (2013). Qualitative inquiry and research design: Choosing among five approaches (3rd ed.). SAGE Publications.

Dörnyei, Z. (2007). Research methods in applied linguistics: Quantitative, qualitative, and mixed methodologies. Oxford University Press.

Ellis, R. (2008). The study of second language acquisition (2nd ed.). Oxford University Press.

Gregersen, T., & Horwitz, E. K. (2002). Language learning and perfectionism: Anxious and non-anxious language learners’ reactions to their own oral performance. The Modern Language Journal, 86(4), 562–570. https://doi.org/10.1111/1540-4781.00161

Horwitz, E. K., Horwitz, M. B., & Cope, J. (1986). Foreign language classroom anxiety. The Modern Language Journal, 70(2), 125–132. https://doi.org/10.1111/j.1540-4781.1986.tb05256.x

Johnson, D. W., & Johnson, R. T. (2009). An educational psychology success story: Social interdependence theory and cooperative learning. Educational Researcher, 38(5), 365–379. https://doi.org/10.3102/0013189X09339057

MacIntyre, P. D., & Gardner, R. C. (1994). The subtle effects of language anxiety on cognitive processing in the second language. Language Learning, 44(2), 283–305. https://doi.org/10.1111/j.1467-1770.1994.tb01103.x

Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldaña, J. (2014). Qualitative data analysis: A methods sourcebook (3rd ed.). SAGE Publications.

Moleong, L. J. (2019). Metodologi penelitian kualitatif (Edisi revisi). Remaja Rosdakarya.

Nunan, D. (2015). Teaching English to speakers of other languages: An introduction. Routledge.

Oxford, R. L. (1990). Language learning strategies: What every teacher should know. Heinle & Heinle Publishers.

Price, M. L. (1991). The subjective experience of foreign language anxiety: Interviews with highly anxious students. In E. K. Horwitz & D. J. Young (Eds.), Language anxiety: From theory and research to classroom implications (pp. 101–108). Prentice Hall.

Richards, J. C., & Rodgers, T. S. (2014). Approaches and methods in language teaching (3rd ed.). Cambridge University Press.

Sugiyono. (2021). Metode penelitian kualitatif untuk penelitian yang bersifat eksploratif, enterpretif, interaktif, dan konstruktif. Alfabeta.

Tsui, A. B. M. (1996). Reticence and anxiety in second language learning. In K. M. Bailey & D. Nunan (Eds.), Voices from the language classroom (pp. 145–167). Cambridge University Press.

Young, D. J. (1991). Creating a low-anxiety classroom environment: What does language anxiety research suggest? The Modern Language Journal, 75(4), 426–439. https://doi.org/10.1111/j.1540-4781.1991.tb05378.x

Zhang, X., & Zhong, J. (2012). The relationship between anxiety and foreign language learning. International Journal of English Linguistics, 2(3), 1–8. https://doi.org/10.5539/ijel.v2n3p27

Zheng, Y. (2008). Anxiety and second/foreign language learning revisited. Canadian Journal for New Scholars in Education, 1(1), 1–14. https://doi.org/10.1111/j.1467-1770.1994.tb01103.x

Downloads

Published

2026-06-09

Issue

Section

Articles